PSGA Turut Serta Event Jalan Sehat Bersama Anak Autis

Kepedulian bisa ditunjukkan melalui advokasi masif seperti turut serta dalam kegiatan yang mengusung nilai-nilai yang sedang diperjuangkan. Keterlibatan pada event tertentu bisa memberi pernyataan kepada publik bahwa kita cenderung berada di sisi yang mana. Hal ini yang coba ditunjukkan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LPPM IAIN Kendari pada event Jalan Sehat Bersama Anak Autis yang dilaksanakan di Lapangan Eks-MTQ Kota Kendari, Ahad, 08 April 2018. Dengan mengusung misi advokasi jaminan pemenuhan kebutuhan dasar anak, PSGA memberi pesan kepada masyarakat bahwa anak-anak, tanpa peduli kondisi mereka, patut dijamin kebebasannya mengekspresikan diri dan diterima oleh masyarakat.

Klik Gambar Untuk Melihat Album

Bulan April sendiri menjadi momentum berkesan bagi anak-anak penderita autisme. Euforia perayaan advokasi jaminan kesetaraan hidup anak-anak autis begitu meriah di seluruh dunia pada momentum ini. Begitu banyak kesalahpahaman yang dianut masyarakat umum terhadap penderita autisme sehingga hal ini berdampak pada perlakuan mereka terhadap para penderita. Meski demikian, PSGA akan terus memberi edukasi kepada masyarakat melalui publikasi informasi baik dari penelitian ilmiah atau komunitas peduli untuk membalik stereotipe tersebut.

Ibu Dr. Ros Mayasari, M.Si. bersama peserta event Jalan Sehat Bersama Anak Autis

Sebagai contoh, masyarakat sering menganggap bahwa penderita autisme tidak mempunyai rasa empati terhadap sesama dikarenakan perkembangan otak dan pikiran mereka terganggu. Situs Curiosity.com melansir bahwa stereotipe ini justru muncul melalui kesalahpahaman para ahli itu sendiri. Pada tahun 1980an, pakar psikologi berkebangsaan Inggris, Simon Baron-Cohen mengaungkan teori “buta pikiran” atau mindblindness sebagai salah satu gejala utama autisme. Sehingga ia menyimpulkan bahwa penderita autisme akan menjauhi kontak mata dengan orang sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan penderita autisme untuk membayangkan pikiran dan perasaan orang yang sedang dihadapinya. Kabar baiknya, di tahun 2017 sebuah studi dilakukan untuk menguji keabsahan pernyataan ini. Hasilnya, fenomena penderita menjauhi kontak mata ternyata tidak seperti yang dinyatakan sebelumnya. Penyebabnya bukan karena ketidakmampuan mereka membangun rasa empati terhadap sesama namun justru otak mereka terlalu sensitif. Untuk menguji hal tersebut, para penderita autisme yang secara sukarela ikut menjadi bagian dalam penelitian ini, diberi pemicu dengan gambar beragam ekspresi wajah. Para peneliti lalu menemukan aktivitas berlebih di bagian otak Amygdala, yang bertanggungjawab untuk mengenali pola dan menerjemahkan ekspresi wajah. Pemicu berlebihan ini lah yang menyebabkan rasa gelisah pada penderita autisme sehingga bertemu orang asing bagi mereka terasa menakutkan.

Hal ini hanya merupakan satu contoh dari banyak contoh kesalahpahaman yang kita percayai terhadap para penderita autisme. Dampaknya sangat masif, bahkan anak-anak yang divonis menderita atisme justru menjadi bahan cemohan di lingkungan sekolah; tempat yang seharusnya menyediakan rasa aman bagi mereka selain rumah. Temuan tadi menjadi isyarat bagi kita untuk mengubah paradigma berpikir kita terhadap perlakuan kepada penderita autisme. Seharusnya, masyarakat lah yang harus paham dan mengerti kondisi mereka bukan sebaliknya memaksakan mereka untuk tunduk pada persepsi umum. Jika masyarakat telah mengetahui alasan dibalik mengapa para penderita autisme menjauhi kontak mata, seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian tadi, mestinya mereka tidak memandang langsung ke mata mereka namun mengarahkan pandangan ke alis atau dahi sebagai solusinya. Mereka yang diberikan kesehatan dan kesempurnaan fisik oleh Allah SWT mestinya lebih memuliakan mereka yang tidak seberuntung mereka sebagai ungkapan rasa puji dan tasbih atas ciptaanNYA yang maha beragam.

PSGA LPPM sebagai ujung tombak advokasi misi pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas terutama anak-anak dari institusi IAIN Kendari akan terus menyebarkan informasi mendidik seperti ini ke khalayak secara masif. Tujuannya sederhana, membentuk paradigma mainstream yang membalik paradigma keliru sebelumnya. Sebab misi ini begitu berat adanya, PSGA mengajak masyarakat berpartisipasi secara aktif untuk ikut dalam kampanye Jihad Melawan Kesalahpahaman Umum ini. Salam!