Drakor Episode 3 Tantang Para Peneliti Untuk Lebih Produktif di Masa Pandemi

Kehidupan di masa pandemi tidak hanya mempengaruhi kehidupan sosial secara umum di masyarakat. Secara khusus, rutinitas akademik juga mau tidak mau mengalami penyesuaian. Untuk memahami hal ini dengan baik, LP2M IAIN Kendari mengajak para akademisi untuk ikut berpartisipasi pada Drakor (Daurah Ramadhan Korner) Episode 3 yang secara khusus mengangkat strategi penelitian di masa pandemi.

Moderator Drakor episode 3, Ustadz Akbar, sesaat sebelum daurah dimulai.

Drakor Episode 3 yang tayang hari ini, Sabtu, 16 Mei 2020 dengan tajuk “Dinamika dan Kompleksitas Riset Bidang Sosial-Keagamaan di Era Covid-19: Perspektif Sosiologi-Antropologi” dibawakan oleh Prof. H.M. Adlin Sila, MA., Ph.D. yang merupakan Peneliti Ahli Utama Balitbang Diklat Kemenag Rl serta Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Wahyuddin Halim, Ph.D. yang merupakan Dosen Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar. Drakor Episode 3 ini mulai tayang secara langsung pada pukul 11.00 AM WITA.

Didaulat sebagai penyaji materi pertama, Prof. Adlin terlebih dahulu menjabarkan strategi-strategi yang bisa diterapkan oleh para peneliti di lapangan. Terutama sisi-sisi yang biasanya diabaikan saat berada di lapangan namun ternyata punya peran yang signifikan. Menurut lulusan Australian National University Canberra ini juga memperingatkan bahwa di masa pandemi seperti saat ini, pihak-pihak yang menjadi target penelitian, terutama informan atau partisipan kunci, mungkin saja menjalankan peran ganda atau bahkan beralih tugas pokok dan fungsinya.

Prof. H. M. Muh. Adlin Sila, MA., Ph.D. live dari Jakarta saat membawakan materi.

Hal itu hanya salah satu dinamika dari banyak dinamika yang ada termasuk perubahan tren kajian di berbagai bidang ilmu yang juga menyesuaikan dengan dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini. Yang harus diperhatikan oleh peneliti dari berbagai dinamika yang ada adalah dinamika sosial di mana perubahan bentuk interaksi sosial masyarakat bisa mempengaruhi struktur dan target dari penelitian itu sendiri. Di bagian akhir penjelasan, beliau menegaskan bahwa penelitian punya tradisi sendiri yang biasanya digambarkan lewat literature review sehingga mustahil bagi suatu penelitian tidak mempunyai kaitan dengan penelitian sebelumnya. Sehingga yang patut dipertimbangkan oleh peneliti adalah orisinalitas argumen yang ditawarkan oleh peneliti yang membedakannya dari penelitian yang sudah dilaksanakan sebelumnya.

Penyaji materi kedua, Wahyuddin Halim, Ph.D., live dari Makassar ketika memaparkan presentasi beliau.

Pada bagian kedua, Prof. Wahyuddin menjabarkan materi dengan menitik-beratkan pada tradisi penelitian dari sudut pandang antropologis. Menyambung apa yang sebelumnya disinggung oleh Prof. Adlin, beliau menegaskan bahwa para peneliti sudah harus beradaptasi dengan new normal yang bakal menjadi tren baru pasca pandemi. Selanjutnya, beliau memaparkan konsep perjalanan virtual serta focus-group discussion melalui fasilitas meeting serta video-conference yang banyak ditawarkan di pasar aplikasi. Beliau menyebutkan beberapa strategi yang bisa mewakili penelitian lapangan langsung seperti layanan Facebook Live atau Youtube Live atau menjangkau informan melalui fasilitas Google Form.

Menurut beliau, sejatinya jarak bukan lagi merupakan tantangan di masa infrastruktur teknologi informasi sudah sedemikian maju. Bahkan di masa pandemi pun, lokasi yang menjadi target penelitian bisa memanfaatkan bantuan informan lokal/ pembantu peneliti yang sedang berada di lokasi tersebut. Meski demikian, peneliti mesti mempertimbangkan berbagai keterbatasan yang mungkin menjadi kendala. Termasuk kemampuan literasi digital dari partisipan serta jangkauan jaringan internet di lokasi bersangkutan. Untuk topik, lulusan Australian National University ini memberikan masukan seperti pandangan kaum beragama terhadap dilema ketaatan terhadap Tuhan atau terhadap otoritas terkait. Selain itu, bisa pula mengangkat pola-pola pelaksanaan dakwah dan pendidikan keagamaan yang memanfaatkan media sosial serta fenomena munculnya penanda baru yang menentukan otoritas keilmuan seperti jumlah follower media sosial.

Tampilan PowerPoint penyaji materi saat membawakan daurah.

Sebagai simpulan, kedua pemateri sepakat bahwa penelitian merupakan tonggak majunya pengetahuan dan ilmu sehingga pandemi tidak serta merta membuat peneliti stagnan dari kegiatan penelitiannya. Bahkan dalam segala keterbatasan yang ada harusnya kreativitas muncul dan mengambil alih kendali agar peneliti tetap bisa produktif. Intinya, jangan menjadikan Covid-19 sebagai kambing hitam atas kemalasan yang sebenarnya bersumber dari diri kita sendiri.

Ketua LP2M, Dr. Abdul Kadir, M.Pd., menyapa peserta di penghujung acara Drakor.

Daurah Ramadhan Korner (Drakor) yang diinisiasi oleh LP2M IAIN Kendari melalui Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat semakin diminati oleh masyarakat. Terbukti pada dua episode sebelumnya, jumlah pendaftar untuk kegiatan ini meningkat secara drastis. Menyikapi hal tersebut, Ketua LP2M, Dr. Abdul Kadir, M.Pd., menyanggupi peningkatan pelayanan ke depannya. “Sementara ini yang bisa kami jamin adalah dengan memastikan peserta daurah yang sebelumnya telah melakukan registrasi mendapat prioritas untuk ikut menyaksikan kegiatan daurah secara langsung,” tegas beliau.

Bagi peserta yang tidak sempat menyaksikan lewat aplikasi Zoom, penyimak dapat menuju tautan berikut:

https://youtu.be/BlFw65ZVn1A

Bagi peserta yang telah melakukan registrasi dan konfirmasi saat Live Streaming Drakor Episode 3 ingin mengunduh E-Sertifikat dapat mengecek pada tautan berikut:

https://drive.google.com/drive/folders/1GcjEl7SLr-sI2QctRHDpBmggiwdC98rw

Bagi peserta yang tidak menemukan E-Sertifikat atas nama bersangkutan dapat menghubungi Panitia Drakor lewat nomor kontak di pamflet atau dapat mengirim surel ke e-mail berikut: drakoriain@gmail.com