Seperti Apa Polemik Yang Muncul Dari Berbagai Metode Interpretasi Al-Qur’an? Simak Bahasannya di Drakor Episode 5!

Al-Qur’an merupakan Kitab Suci yang tidak pernah selesai untuk dibicarakan. Sebagai rujukan paling utama dalam mengimplementasikan ajaran Agama Islam, Al-Qur’an sejauh ini telah menginspirasi beragam metode interpertasi dengan ciri khas pendekatan masing-masing. Tentu hal ini bukan merupakan sesuatu yang bisa diterima secara umum dengan tanpa masalah. Polemik yang diakibatkan oleh berbagai metode interpretasi Al-Qur’an sejauh ini punya kontribusi terhadap berbagai selisih paham hingga pertikaian di antara komunitas Muslim/ Muslimah itu sendiri.

Tampilan layar memuat Narasumber bersama para penyimak Drakor Episode 5 pada aplikasi telekonferensi Zoom.

Menimbang hal tersebut, LP2M IAIN Kendari mengangkat tajuk “Ideologi dan Fungsi Al-Qur’an di Indonesia: Antara Informatif dan Performatif” dengan mengundang Ahmad Rafiq, MA., Ph.D. yang merupakan Ketua Program Studi Islam S3 Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Fahmi Gunawan, M.Hum. yang merupakan Dosen sekaligus Peneliti penerjamahan Al-Qur’an dari IAIN Kendari. Drakor Episode 5 ini mulai tayang pada pukul 14.00 WITA melalui telekonferensi Zoom dan layanan Youtube Live.

Dr. Imelda Wahyuni bertindak sebagai moderator pada Drakor Episode 5.

Ustadz Ahmad Rafiq memulai bahasan materinya dengan menegaskan bahwa pada umumnya fungsi laten dari sebuah Kitab Suci adalah sebagai petunjuk hidup bagi umat agamanya. Lebih jauh, secara aplikatif, Kitab Suci kemudian merangkul fungsi informatif dan performatif untuk memenuhi kebutuhan dari komunitas penerimanya. Dalam Islam sendiri, Nabi Muhammad SAW bertugas sebagai penjabar makna-makna Al-Qur’an yang dalam situasi dan konteks tertentu dikonfirmasi oleh para sahabat beliau. Meski demikian, tutur alumnus Temple University Amerika Serikat ini menyebutkan bahwa meski bersifat informatif sebab terkadang berkaitan dengan sebab turunnya suatu ayat, Al-Qur’an tetaplah sebagai wahyu.

Hal ini sering ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri di banyak kesempatan kepada para sahabat beliau. Al-Qur’an tidak hanya menyampaikan informasi namun lebih luas mengatur bagaimana manusia berperilaku sehingga dengan demikian fungsi performatif Al-Qur’an merupakan hal yang niscaya. Menurut penjelasan Ustadz Ahmad Rafiq, fungsi performatif dari Al-Qur’an menitikberatkan pada beberapa masalah yang mencakup ritual, praktek komunal, hingga apa yang beliau sebut sebagai technology of community. Dalam perkembangannya, muncul tradisi Vernakularisme yang memandang Al-Qur’an dalam dua sisi berdasarkan fungsinya yaitu kitab suci yang diterima sebagai ideologi berdasarkan fungsi informatifnya sedangkan fungsi performatif dianggap menyulut pembangkangan melalui ritual-ritual yang diterjemahkan secara sepihak oleh komunitas-komunitas tertentu. Masalah tersebut muncul ketika alih bahasa dilakukan di mana konsep dalam bahasa asal tidak dapat seutuhnya diturunkan ke bahasa tujuan. Di sisi lain, tradisionalisme tetap bersikukuh mempertahankan derajat Kitab Suci dalam kesatuan fungsi baik informatif sekaligus performatif. Sehingga pandangan ideologis Al-Qur’an menemui benturan pada metode baku dan berterima terhadap interpretasi ayat-ayat suci.

Ahmad Rafiq, MA., Ph.D. saat menjelaskan tradisi vernakularisme dalam penerjemahan Al-Qur’an

Selanjutnya, Ustadz Fahmi Gunawan menyebutkan bahwa tradisi penerjemahan Al-Qur’an tidak lepas dari latar belakang ideologis dari pihak berkepentingan. Beliau memberi contoh metode penerjemahan kaum orientalis yang deterministik serta mendahulukan pra-anggapan yang terkadang berat sebelah. Ayat-ayat Al-Qur’an, menurut metode terjemahan mereka, bersifat Arab-sentris dan terikat pada dinamika kehidupan hanya di masa ketika Nabi Muhammad SAW hidup saja. Penerjemahan ashabiyyah, di sisi lain, merangkai konsep yang menyesuaikan dengan kepentingan tafsir kelompoknya masing-masing. Hal ini bisa ditilik dari justifikasi ayat-ayat Al-Qur’an dengan kata kunci khilafah atau syariat oleh penerjemah dari kalangan pendukung gerakan Khilafah Islamiyah digiring untuk menjustifikasi pandangan mereka yang mencela sistem Republik yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Dosen sekaligus peneliti dari IAIN Kendari yang sementara menyelesaikan studi S3 ini menyebutkan bahwa di Indonesia sendiri, otoritas penerjemahan yang selama ini di bawah koordinasi Kementerian Agama sering mendapat tantangan dari berbagai pihak. Tentu tantangan seperti ini tidak dapat dimaknai hanya sebagai serangan terhadap dominasi teks suci namun dapat pula mencakup dominasi praktik ritual-ritual keagamaan. Dalam pembahasannya, Ustadz Fahmi Gunawan banyak menyajikan contoh-contoh metode interpretasi ayat-ayat suci Al-Qur’an yang mempengaruhi sudut pandang penganutnya terhadap bagaimana seharusnya umat Islam mempraktikkan agamanya baik terhadap ibadah mahdhah maupun ibadah sosial lewat interaksi sesama Muslim/ Muslimah atau terhadap Non-Muslim/ Non-Muslimah.

Fahmi Gunawan, M.Hum. menyebutkan beberapa contoh metode penerjemahan Al-Qur’an kepada para penyimak.

Drakor Episode 5 ini semakin ramai diikuti oleh netizen Indonesia. Menurut Ketua LP2M, Dr. Abdul Kadir, M.Pd., kanal Youtube LP2M sendiri telah di-subscribe oleh ratusan netizen Indonesia dan itu membuktikan bahwa dalam kurun waktu hanya sekitar 2 (dua) pekan dari serial Drakor dimulai, popularitas acara yang diinisiasi di bawah koordinasi Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat ini semakin melejit dan menjadi topik pembicaraan nasional.

Ketua LP2M, Dr. Abdul Kadir, M.Pd. saat menyapa penyimak di penghujung acara.

Bagi yang tidak sempat menyaksikan Drakor Episode 5 ini secara langsung melalui aplikasi telekonferensi Zoom masih dapat menyaksikan rekaman dari tayangan tersebut melalui kanal Youtube LP2M IAIN Kendari di tautan berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=O1t4IjtHuvE

Bagi peserta yang telah melakukan registrasi dan konfirmasi saat Live Streaming Drakor Episode 5 ingin mengunduh E-Sertifikat dapat mengecek pada tautan berikut:

https://drive.google.com/drive/u/0/folders/1as76AAaOTkDAegfaJME2dyy9ErulXMGe

Bagi yang tidak menemukan E-Sertifikat atas nama bersangkutan dan telah melakukan registrasi sebelumnya dapat menghubungi panitia melalui nomir kontak di pamflet atau mengirim surel dengan menulis nama lengkap beserta alamat e-mail ke: drakoriain@gmail.com