PSGA LPPM IAIN Kendari Ikut Menyukseskan Seminar Dengan Tema Peran Politik Kartini Masa Kini

Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LPPM IAIN Kendari bersama dengan Organisasi Perempuan di lingkup Sulawesi Tenggara seperti Nasyiatul Aisyiah, Rumpun Perempuan, dan Solidaritas Perempuan menggelar Seminar Nasional dengan Tema Peran Politik Kartini Masa Kini yang diselenggarakan pada hari Ahad, 22 April 2018 di Same Hotel Kendari.

Perempuan mesti maju ke depan menyuarakan sendiri ide dan gagasan mereka. Hanya dengan demikian, cita dan asa yang selama ini berlindung di balik semangat yang besar itu akan menampakkan wujudnya…

Kegiatan Seminar ini melahirkan pula deklarasi Perempuan Anti Politik Uang yang menjadi laten di tahun politik seperti sekarang ini. Seminar ini dibanjiri oleh praktisi, aktivis perempuan, mahasiswi dari berbagai Perguruan Tinggi di Kota Kendari, serta masyarakat umum yang punya perhatian terhadap isu-isu Perempuan kontemporer.

Seminar ini menghadirkan Narasumber Bapak Sunanto selaku Direktur Pemantau Pemilu serta Ibu Ir. Waode Hamsina Bolu, M.Sc. yang merupakan anggota DPD RI Perwakilan Sulawesi Tenggara. PSGA LPPM IAIN Kendari sendiri secara aktif mengajak baik mahasiswi maupun mahasiswa terutama di lingkup IAIN Kendari untuk berkontribusi pada kegiatan tersebut. Langkah ini sejalan dengan misi Gender-Mainstreaming yang diusung dan dikawal oleh PSGA LPPM IAIN Kendari. Langkah koersif seperti ini merupakan salah satu pendekatan yang sering dilakukan untuk mengentaskan penyakit apatisme terutama pada mereka yang berkecimpung di dunia akademik.

Ibu Dr. Ros Mayasari, M.Si. memberikan sambutan (Klik gambar untuk galeri)

Menyongsong momen-momen Pilkada yang akan mewarnai pesta demokrasi selama dua tahun ke depan, Perempuan dituntut untuk lebih memaknai dan menyelami perjuangan Kartini di masa sekarang termasuk di antaranya di bidang politik. Perempuan harus sadar politik sebab institusi ini adalah jalan yang dapat ditempuh oleh Perempuan untuk menyuarakan kepentingan dan kebutuhannya. Sebab, selama ini citra Perempuan hanya dipahami sebagai sasaran kampanye; lebih kurang ditampilkan sebagai pemanis belaka. Perlakuan seperti ini tidak ubahnya menempatkan Perempuan sebagai sarana daya pikat yang biasa diterapkan di dunia industri periklanan. Stereotip seperti ini hanya akan melanggengkan marjinalisasi Perempuan dalam panggung peran aktif sosial.

 

Bangsa Indonesia yang kaya akan budaya keberagaman memberikan kesempatan yang sama kepada Putra dan Putrinya untuk berkontribusi secara nyata untuk perubahan yang lebih baik. Perempuan punya kans untuk melibatkan diri di panggung politik aktif serta layak untuk dipilih baik sebagai calon Kepala Daerah maupun sebagai Anggota Legislatif. Sebab Kartini di era kolonial adalah figur yang berjuang melalui ide dan gagasan yang beliau abadikan lewat goresan penanya. Saatnya Kartini era informasi dan eksplorasi ini menggunakan amunisi yang sama, ide dan gagasan namun dengan senjata yang lebih ampuh dan inovatif seperti kursi pemerintahan. Ide dan gagasan adalah amunisi universal yang tak dapat dibungkam. Ketika tubuh dan jiwa telah lelah menerima segala bentuk penindasan maka ide dan gagasan akan terus hidup dan gentayangan di tiap ruang dan waktu menunggu untuk merasuki generasi yang akan kembali mengusung panjinya. Mudah-mudahan di masa sekarang ini, PSGA LPPM IAIN Kendari merupakan salah satu yang berada di garda depan mengusung panji tersebut. Amiin.