IAIN Kendari Melalui PSGA LPPM akan Mengawal Implementasi PPRG 2018

Pemerintah terus berbenah dalam upaya pembangunan kualitas hidup masyarakat yang tidak lagi terbelenggu stereotipe dan stigma gender. Sumber Daya Manusia (SDM) itu sendiri diukur berdasarkan Human Development Indeks (HDI) atau Gender Empowerment Measurement (GEM). Kedua instrumen ini butuh intervensi Pemerintah. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang berusaha mewujudkan kesetaraan gender melalui strategi Pengarusutamaan Gender (Gender Mainstreaming) dalam pembangunan nasional. Lebih jauh, strategi tersebut diwujudkan melalui Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 67 Tahun 2011 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah. Intervensi ini diharapkan mampu mewujudkan kesetaraan gender di berbagai bidang pembangunan daerah, sistem politik yang demokratis, serta pemberdayaan masyarakat yang partisipatif.

Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam sendiri menggulirkan Program Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender atau disingkat PPRG pada PTKIN dengan fokus 12 (Dua Belas) Satuan Kerja PTKIN sebagai pilot model dimulai pada tahun 2016. Pada tahun 2018 ini, Penyelenggaraan  Koordinasi dan Evaluasi Implementasi PPRG PTKIN di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kembali dilakukan dengan melibatkan 10 (sepuluh) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi sasaran Program Pendampingan PPRG tahun 2018 dan 27 (Dua Puluh Tujuh) PTKIN dimana IAIN Kendari termasuk di antaranya. Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 (Tiga) hari tersebut dimulai pada Rabu, 21 Maret 2018 hingga Jum’at, 23 Maret 2018 dan dihadiri oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang diwakili oleh Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PGSA), Ibu Dr. Ros Mayasari, M.Si., sebagai perwakilan dari IAIN Kendari.

Sosialisasi Implementasi PPRG oleh Kementerian Agama

Pelatihan pelaksanaan peningkatan kompetensi pengelola PPRG PTKIN ini ditujukan agar peserta mampu memahami secara keseluruhan pelaksanaan PPRG mulai dari konsep, pelaksanaan, monitoring hingga evaluasi sehingga dapat menerapkannya di lembaga masing-masing. Secara khusus, pelatihan ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman akan pentingnya Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam program pembangunan, memberi pemahaman konsep dan tatalaksana PPRG, serta melatih peserta agar mampu melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PPRG. Pelatihan ini pun dijadikan ajang sosialisasi dan diskusi tentang konsep, teori, dan isu gender secara global dan nasional, strategi gender mainstreaming dalam pembangunan nasional dan daerah, penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG), serta mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan PPRG dalam pembangunan.

Pemaparan Materi Sosialisasi oleh Pemateri

Ke depannya, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) yang merupakan unit LPPM IAIN Kendari yang mengurusi hal ini akan berada di garda depan pelaksanaan PPRG di kampus IAIN Kendari. Setidaknya tiap-tiap satuan unit yang ada di institusi IAIN Kendari mesti menyertakan satu kegiatan yang diberi lampiran kajian mengenai akses dan kesempatan yang sesuai dengan rumusan kesetaraan gender. “PSGA akan hadir sebagai pendamping yang akan terus mengadvokasi, mengawal, dan mendampingi proses pengarusutamaan gender di institusi IAIN Kendari ini”, demikian yang diutarakan oleh Ketua PSGA LPPM IAIN Kendari, Ibu Dr. Ros Mayasari, M.Si. ketika beliau memaparkan hasil pelatihan yang diikutinya beberapa hari yang lalu.

Penanaman ideologi memang bukanlah sesuatu yang instan. Butuh waktu dan input secara masif sehingga akan menjadi suatu keabsahan yang berterima secara umum. Tugas mulia ini pun demikian. Pengarusutamaan gender dimulai dari program yang dijalankan institusi di Pemerintahan secara bertahap akan menyesuaikan dan diadopsi oleh publik secara meluas. PSGA LPPM IAIN Kendari akan terus menyuarakan dan mempublikasikan pendekatan ini secara berkala. Sehingga layaknya iklan yang masif akan melekatkan sebuah brand produk, diharapkan pendekatan serupa akan melahirkan hasil yang sama.